Tipologi Bangunan Bali

Kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan)

  1. Parahyangan adalah kebahagiaan tercipta melalui keseimbangan pola relasi/hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan.
  2. Dalam pengaplikasiannya:
    • Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat.
    • Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga
    • Pada bale banjar yaitu di setiap kawasan bale banjar pasti terdapat merajan bale banjar. Dimana pada stiap merajan bale banjar biasanya terdapat pelinggih Bhagawan Penyarikan. Kalu dilihat dari aspek kegiatan yang terjadi di bale banjar. Dimana pada bale banjar terdapat kegiatan berupa piodalan pada kawasan bale banjar. Pada kawasan bale banjar bun terdapat ritual tarian Sang Hyang Jaran yang dimana tarian tersebut di tarikan di depan bale banjar dan biasanya penarinya dari masyarakat sekitar. Dimana ritual tersebut masih bertahan sampai sekarang.
    • Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah

  3. Pawongan  adalah kebahagiaan tercipta melalui keseimbangan pola relasi/hubungan harmonis antara manusia dengan Manusia.
  4. Dalam pengaplikasiannya:
    • Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali
    • Untuk di desa adat meliputi krama desa adat
    • Pada kawasan bale banjar yaitu terlihat pada bangunan bale banjarnya. pada bangunan bale banja, masyarakat melakukan aktifitas pesamuan (rapat) dimana masyarakat saling berdiskusi tentang kegiatan – kegiatan banjar ataupun masalah – masalah yang terjadi di banjar. Baik pada kalangan warga banjar yang utama(kepala keluarga) ataupun muda – mudi(STT). Pada masa lalu di bale banjar bun gterdapat kegiatan mebat. Diman warga bergotong royong saling bantu – membantu melaksakan kegiatan memasak di bale banjar baik dalam rangka kegiatan banjar ataupun kegiatan pribadi masyarakat. Namun budaya mebat ini telah memudar karena masyarakat cenderung membeli masakan untuk kegiatan – kegiatan tersebut. Yang masih bertahan adalah kegiatan bergotong royong mejejaitan oleh ibu – ibu yang masih dilaksakan di bale banjar. Pada masa sekarang terdapat kegiatan Taman kanak – kanak dan olah raga bulu tangkis yang menunjukan juga konsep Pawongan pada bangunan bale banjar. Kemudian pada kawasan bale banjar jga digunakan sebagai tempat hanya untuk sekedar bercengkrama atar warga pada sore hari.
    • Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga.

  5. Palemahan adalah kebahagiaan tercipta melalui keseimbangan pola relasi/hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
  6. Dalam pengaplikasiannya:
    • Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali
    • Di tingkat desa adat meliputi “asengken” bale agung
    • Pada pengaplikasiannya pada bangunan di kawasan bale banjar terliahat pada bangunan Bale kul – kul. Dimana bale kul – kul berfungsi sebagai pemberi isyarat bagi masyarakat sekitar apabila ada kegiatan bale banjar, kematian dan apabila terjadi bencana alam. Selain itu pada bale banjar terdapat got. Jelinjingan ataupun got ini di buat demi keasrian lingkungan yang berhubungan dengan aliran air kotor agar tidak mengganggu kelangsungan hindu masyarakat berupa kebersihan lingkungan dari limbah.
    • Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan  


Bangunan Rumah
Setiap bangunan rumah di bali masih menggunakan konsep ini Parahnyangan adalah tempat dimana kita melakukan pemujaan terhadap Tuhan , Pawongan yaitu Rumah tempat tinggal kita , tempat keluarga kita bernaung dan Palemahan adalah halaman kita yang bias kita manfaatkan untuk bercocok tanam , tanaman yang sekiranya berguna untuk kehidupan keluarga sehingga terwujud nilai dan azas keseimbangan dalam kehidupan keluarga

Sistem Irigasi di Bali / Subak
Dalam Sistem Organisasi Irigasi di bali diterapkan juga Konsep Tri Hita Karana  yaitu Parahyangan dengan di bangunnya Pura Ulun Sui di areal subak tersebut , Pawongan adalah Krama Subak atau anggota dari organisasi irigasi tersebut dan Palemahan adalah Sampai batas mana Subak tersebut mendistribusikan dan mengelola pengairan.

Dalam pembuatan Awig-awig Desa Adat
Tri Hita Karana bisa menjadi dasar pembuatan awig-awig. Awig-awig harus bisa menjaga tiga unsur keseimbangan dan keharmonisan. Misalnya, bagaimana melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan mewujudkan pemeliharaan alam, tumbuhan, dan air.

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/int/article/viewFile/16532/16524


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...